NUNUKAN, KN – Kondisi listrik byarpet (mati-nyala) di Nunukan, Kalimantan Utara, memicu gelombang protes masyarakat. Warga meluapkan kekesalan mereka di berbagai platform Media Sosial.
Manajemen PLN Rayon Nunukan sebelumnya membagikan jadwal pemadaman bergilir dengan durasi tiga jam untuk setiap wilayah. Namun, fakta di lapangan sama sekali berbanding terbalik. Pemadaman justru terjadi berkali-kali dalam sehari, dan inilah yang memantik protes keras dari masyarakat.
Keluhan Warga dan Kekhawatiran Kerugian
Herman, salah satu warga yang emosi, mempertanyakan ketidaksesuaian jadwal tersebut. “Kenapa tidak sesuai jadwal? Bukan sekali padam dalam sehari, malah beberapa kali. Lama-lama hancur semua barang elektronik,” ujarnya.
Warga lain, Aditya, menyampaikan keluhan serupa. Ia mendesak PLN segera membuat jadwal yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. Tujuannya, masyarakat, khususnya para pengusaha kecil yang sangat bergantung pada listrik, bisa menekan potensi kerugian. “Cobalah yang betul kalau buat jadwal. Kalau sehari padam tiga kali seperti ini, rusak barang, maukah PLN tanggung jawab?” keluhnya.
Bahkan, obrolan warga di warung kopi menyebutkan, padamnya listrik di Kabupaten Nunukan seolah menjadi pertanda Bulan Ramadan sudah dekat. Pasalnya, kebiasaan tahunan menunjukkan, Nunukan selalu mengalami byarpet menjelang Ramadan.
Jawaban PLN, Cuaca Ekstrem Jadi Penyebab Utama
Menanggapi situasi ini, Manajer PLN ULP Nunukan, Rendra Alfian, angkat bicara. Rendra menjelaskan, gangguan listrik yang belakangan terjadi dipicu oleh kondisi cuaca ekstrem.
“Cuaca ekstrem menyebabkan kerusakan di sejumlah titik jaringan, sekaligus terjadi juga gangguan pada pembangkit PLTMG Sebaung,” jelas Rendra melalui pesan tertulisnya, Rabu 10 Desember 2025.
Sebagai informasi, Kabupaten Nunukan mengandalkan tiga sumber suplai utama tenaga listrik:
- PLTD Sei Bilal, berdaya sekitar 7 MW.
- PLTD Sebatik, berkapasitas 3,1 MW.
- PLTMG Sebaung, yang normalnya menyumbang daya sekitar 6 MW.
Meskipun Rendra tidak merinci bagian mesin mana yang rusak dan seberapa jauh dampaknya, ia mengakui keadaan ini menuntut PLN segera melakukan pemeliharaan darurat (emergency). PLN perlu melokalisir sumber gangguan, mengatur beban pembangkit, dan menormalkan kembali sistem secara bertahap.
PLN Nunukan langsung merespons dengan menerjunkan lebih dari 50 personel gabungan. Tim dikerahkan untuk menangani gangguan yang terjadi di berbagai titik wilayah Nunukan dan sekitarnya.
“Tim kami kerahkan secara menyeluruh untuk memastikan pemulihan dilakukan secepat dan seaman mungkin,” tegas Rendra. Selain itu, PLN juga melaksanakan pemeliharaan terjadwal di pembangkit sebagai langkah preventif. Hal ini penting untuk memastikan seluruh peralatan bekerja optimal, sekaligus mengurangi potensi gangguan berulang.
Ia menekankan, upaya ini sangat penting. PLN harus menjaga stabilitas sistem kelistrikan Nunukan, dan mempercepat pemulihan layanan kepada seluruh pelanggan.
“PLN memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat. Kami berkomitmen terus meningkatkan keandalan sistem dan memperkuat pelayanan agar pasokan listrik di Nunukan dan sekitarnya semakin prima,” tutupnya. (Dzulviqor)
![]()













































