NUNUKAN, KN – Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara), Zainal Arifin Paliwang, menjamu puluhan jurnalis se-Kaltara di Cendana Resto Tanjung Selor, Rabu (18/3). Pertemuan hangat ini bertujuan mempererat silaturahmi sekaligus memperkokoh sinergi komunikasi antara Pemprov Kaltara dan awak media.
Zainal hadir bersama Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (DKISP) Kaltara. Mereka duduk melingkar, melebur bersama para pemburu berita tanpa sekat birokrasi yang kaku. Namun, sebuah momen tak terduga justru mencuri perhatian saat waktu salat berjamaah tiba.
Momen Spontan di Shaf Terakhir
Rombongan bergegas menunaikan salat usai menyantap hidangan berbuka. Kamera ponsel salah satu wartawan menangkap pemandangan unik: sang Gubernur berdiri sendirian mengikut imam dari shaf paling belakang. Ia tertinggal dari rombongan utama yang telah mengisi barisan depan.
Pemandangan ini memicu candaan ringan saat sesi bincang santai. Seorang wartawan melempar pertanyaan jenaka mengenai posisi salat orang nomor satu di Bumi Benuanta tersebut.
“Kok bisa-bisanya Bapak shalat di shaf paling belakang, sendirian pula?” tanya jurnalis tersebut sambil tertawa.
Logika Ibadah Sang Gubernur
Zainal menyambut pertanyaan itu lewat senyum santai. Ia mengaku terlambat mengambil wudhu karena menyelesaikan makan paling akhir. Baginya, aturan ibadah memiliki ketegasan sendiri yang melampaui protokol kedinasan mana pun.
“Bagaimana tidak, itu ‘kan kebetulan shalat sudah dimulai, sementara saya belum selesai makan, jadi terakhir ambil wudhu. Di mata Tuhan kita semua sama, tidak ada urusan dengan pangkat dan jabatanmu apa!, tidak peduli kamu siapa!” ucap Zainal.
Ia menegaskan Tuhan melihat hambanya tanpa memandang latar belakang, status, maupun kasta. Aturan shaf dalam salat berlaku mutlak bagi siapa saja.
“Siapa pun anda, setinggi apa pun pangkat dan jabatanmu. Jangankan Gubernur, cucu nabi sekalipun, kalau datang paling lambat, sementara salat telah berlangsung, maka posisinya harus tetap di belakang, apalagi saya yang cuma Gubernur,” tuturnya.
Esensi Niat dan Kekhusyukan
Zainal bahkan memberikan ilustrasi mengenai kepatuhan dalam salat. Ia tetap wajib mengikuti aba-aba imam meski stafnya sendiri yang memimpin salat tersebut. Baginya, substansi ibadah terletak pada niat, bukan pada posisi berdiri atau jabatan duniawi.
“Kita salat itu niatnya ‘kan untuk berlomba-lomba mendapatkan rahmat dan kasih sayang Allah, bukan niat lomba supaya dapat shaf paling depan. Toh, kita di shaf paling depan atau belakang tetap nilainya sama saja di mata Tuhan, tidak bertambah dan tidak ada yang kurang nilainya. Yang terpenting itu niat dan khusyuknya,” tutup Zainal.
![]()












































