Connect with us

Hi, what are you looking for?

Sejarah

Cerita Kliwon, Veteran dari TNI AD di Nunukan, Terlibat Dalam Berbagai Operasi Militer dan Mendapat 8 Medali Kehormatan

NUNUKAN – Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara masih menyimpan legenda pejuang bernama Kliwon.

Pria kelahiran Balikpapan 79 tahun silam ini, bergabung sebagai prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada tahun 1959, saat itu ia masih berusia 17 tahun.

Kini di usia senjanya, Kliwon masih terlihat gagah dan berwibawa, ia bahkan masih mengingat seluruh rangkaian cerita mulai awal penugasan sampai pensiun dari pengabdiannya sebagai Tentara.

‘’Saya menjadi ABRI bertepatan dengan adanya negara memanggil 10.000 pemuda untuk pembebasan Irian Barat. Itu adalah wajib militer pertama di Indonesia,’’ ujar Kliwon mengawali kisah perjuangannya, Selasa 05/10/2021.

Awal penempatan tugas, Kliwon menjadi anggota Batalyon Infanteri 69 Balikpapan Kalimantan Timur.

Sebelum menjalankan misi pertamanya, ia mengikuti sekolah militer di Klaten Provinsi Jawa Tengah selama 6 bulan, lalu berlanjut di kota Sanga Sanga Kutai Kartanegara selama 3 bulan.

‘’Tugas pertama saya operasi Riko Ibnu Hajar, di pedalaman Kalimantan yang terjadi sejak 1950,’’ lanjutnya.

Sejak itu, ia terus mendapat tugas sebagai pasukan pelapis, dan diterjunkan ke sejumlah medan laga.

Pasca operasi Riko, Kliwon kembali dikirim untuk operasi Sapta Marga di utara tengah, dengan markas berkedudukan di Luwuk Banggai Sulawesi Tengah, sekitar tahun 1960.

Peristiwa Konfrontasi Indonesia Malaysia

Berlanjut pada 1963, ia mengemban tugas untuk melapis pasukan dalam peristiwa Konfrontasi RI – Malaysia.

Saat itu ia ditugaskan menempati pos pantau di dataran Tinggi Krayan Nunukan Kalimantan Utara hingga 1964.

Dalam misi ini, 3 rekan Kliwon gugur dalam serangan yang dilakukan pasukan Ranger Australia.

‘’Kami ditempatkan di pos pantau di Pa’ Bawan, sekarang namanya Long Midang. Kami ditugaskan untuk mengawasi udara, jadi ketika serangan senyap dari darat datang, kami tidak menyangka. Terjadi perlawanan sengit dan 3 rekan seperjuangan saya gugur tepat pada 1 Januari 1964,’’ tuturnya.

Selesai tugas di Krayan, Kliwon ditarik dan ditempatkan di Tanah Grogot Kabupaten Paser Kalimantan Timur untuk misi penumpasan G30S PKI 1965.

Namun misi kali ini tak berlangsung lama, karena Kliwon kembali ditarik untuk melapis pasukan Indonesia dalam peristiwa Konfrontasi di Long Nawang yang saat ini berada di wilayah Kabupaten Malinau.

Penugasan ini, ia jalani selama sekitar 20 bulan, karena pada 1966, Indonesia berhasil mengatasi peristiwa Konfrontasi dengan Malaysia.

‘’Di Long Nawang, nyawa hampir melayang kalau bukan karena keajaiban. Pasukan kami melintasi ranjau darat yang disamarkan dengan dedaunan kering dan ranting. Saat terlindas, granat tidak meledak karena berkarat,’’ kata Kliwon.

Sejak peristiwa Konfrontasi berakhir, Kliwon kembali ke pasukan, ia pun lebih banyak menghabiskan tugasnya di perbatasan RI – Malaysia di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Penugasan operasi di Long Nawang menjadi tugas tempur terakhir yang diemban Kliwon.

Ia kemudian ditugaskan di Kodim 03/Balikpapan dan ditempatkan di Sembakung Kabupaten Nunukan, selama 2 tahun.

‘’Tahun 1975 saya kembali ke Nunukan, dan ditunjuk menjadi wakil Danramil. Saat itu Danramilnya Kapten Ardimansah,’’ lanjutnya.

Tahun 1981, Kliwon lalu dikirim ke Sei Pancang Pulau Sebatik untuk menjadi perwakilan TNI AD di perbatasan.

Kliwon dibangunkan pos jaga di tengah sawah dengan ukuran 2×3 meter, ia hanya sendirian menempati pos tersebut.

‘’Saya mengamankan sekitar 7 kapal trawl Malaysia yang mengganggu nelayan kita. Saya juga amankan 2 unit traktor yang menjadi alat mencuri kayu di hutan kita,’’ imbuhnya.

Aksi Kliwon berlanjut saat ia diangkat menjadi Danramil pada 1986 – 1987. Ia kembali mengamankan 75 unit alat berat Malaysia yang hendak mencuri kayu di hutan.

‘’Pokoknya tidak ada toleransi, saya amankan bersama anggota Kodim Nunukan, dan semua diproses secara hukum saat itu,’’ tegasnya.

Atas kiprah dan pengabdiannya, Negara memberikan anugerah dan penghargaan terhadap Kliwon.

Selain diberikan gelar kehormatan Negara sebagai Veteran pembela RI, ia juga mendapat sekitar 8 pernghargaan, antara lain :

1. Penghargaan untuk Gerakan Operasi Militer (GOM) 8. Ini diberikan bagi orang yang turut andil dalam operasi Riko di pedalaman Kalimantan.
2. Sapta Marga, untuk anggota TNI yang berjasa dalam operasi menumpas pemberontakan Kahar Muzakar.
3. Wiradarma, diberikan untuk andilnya dalam peristiwa Konfrontasi RI – Malaysia di Krayan.
4. Penegak, diberikan atas perannya dalam pemberantasan G30S PKI.
5. Wiradarma, kembali diberikan kepada Kliwon untuk konfrontasi kedua di Long Nawang.
6. Untuk masa pengabdian Sewindu, untuk 8 tahun pengabdian di dunia militer.
7. Kesetiaan, untuk 14 tahun pengabdian.
8. 21 Tahun pengabdian sampai Nararia yang menandakan 30 tahun pengabdian juga diberikan kepada Kliwon. (Dzulviqor)

 2,203 dibaca,  3 dibaca hari ini

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kabar Lainnya

Hukum

Menanggapi keterlibatan dua angotanya, Syaiful menegaskan, tidak ada toleransi bagi anggotanya yang terlibat penyalahgunaan narkoba.

Nunukan

NUNUKAN – Baru kenal sekitar sebulan lewat jejaring sosial Facebook, Cecep Bagja (28) pemuda asal kota Garut, Jawa Barat, ini mantap terbang ke Nunukan...

Hukum

NUNUKAN – Satuan Resor Narkoba (Satreskoba) Polres Nunukan, kembali mengungkap kepemilikan narkoba golongan 1 jenis sabu-sabu seberat 3,8 kilogram, Kamis (27/05) malam. Sabu-sabu tersebut...

Ekonomi

NUNUKAN – Puluhan tenaga honor di sejumlah instansi Pemerintah Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara mempertanyakan alasan pemberhentian mereka, dalam agenda hearing yang dilakukan di ruang...