Oleh : Nurul Arofah
Udara dingin Jakarta menyambut rombongan Pramuka Kalimantan Utara saat tiba di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Cibubur, Rabu (12/8/2025) tengah malam. Di bawah langit gelap, Arief Novalia bergerak taktis. Pimpinan Kontingen Daerah (Pinkonda) Kaltara ini memandu registrasi serta mendirikan tenda demi tempat istirahat anggotanya.
Arief membawa misi kesetaraan pada gelaran Perkemahan Pramuka Berkebutuhan Khusus (PPBK) Nasional 2025. Ia mendampingi dua peserta tunarungu, Devi Wahyuningsih dan Erliana Zahira. Kehadiran mereka memberi pesan kuat tentang hak setiap anak untuk tampil di panggung yang sama.
Menembus Sekat Keterbatasan
Langkah Devi menuju Cibubur melewati jalan terjal. Arief sempat menemui jalan buntu saat mengurus administrasi gadis tersebut. Devi lahir dari keluarga prasejahtera. Orang tuanya tidak menguasai kemampuan baca, tulis, serta hitung (calistung). Selain itu, ketiadaan telepon genggam dan jarak rumah yang jauh dari pusat kota sempat memutus arus komunikasi.
Kenyataan pahit ini memacu semangat Arief untuk membantu. Ia segera merajut koordinasi dengan Kwartir Daerah Kalimantan Utara guna menuntaskan kendala dokumen. Berkat gerak cepat tersebut, seluruh berkas Devi rampung sehingga ia bisa berangkat menuju ibu kota.
Pembuktian di Tengah Lapangan
Selama sepekan kegiatan, 13–19 Agustus 2025, para peserta difabel menunjukkan taringnya. Arief melihat semangat mereka mampu menutup segala celah kekurangan fisik. Mereka tampil sebagai pejuang yang meruntuhkan stigma negatif masyarakat.
”Saya menyaksikan saudara-saudara difabel memiliki cita-cita tinggi dan kemauan keras. Mereka melakukan hal-hal melampaui kemampuan saya sendiri,” tutur Arief dengan nada penuh kagum.
Momen puncak terjadi saat upacara bendera. Suasana seketika berubah sakral ketika peserta tunanetra melafalkan Dasa Dharma Pramuka, Undang-Undang Dasar, serta doa dengan suara lantang. Meski memiliki keterbatasan indra penglihatan, mereka menunjukkan kecintaan mendalam pada Ibu Pertiwi.
Konsentrasi dalam Kesunyian
Pada saat yang sama, peserta tunarungu mengemban tugas sebagai petugas pengibar bendera. Mereka bekerja dengan fokus penuh tanpa mengandalkan aba-aba suara. Gerakan mereka tetap selaras saat menarik tali pengikat Sang Merah Putih menuju puncak tiang.
Arief menatap pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. Rasa bangga dan syukur menyatu dalam dadanya. Melalui PPBK Nasional, para Pramuka difabel dari penjuru negeri membuktikan diri sebagai pribadi mandiri. Mereka mengajarkan dunia tentang arti ketangguhan sejati melalui keberanian menampilkan potensi diri.
![]()








































