Penulis: Muhammad Ayyub, S.Si
Di tengah arus perubahan dan godaan zaman, pendidikan karakter menjadi benteng terpenting bagi generasi muda. Di SMP Negeri 3 Bunyu, Kabupaten Bulungan, Pramuka hadir bukan sekadar kegiatan sekolah, melainkan ikhtiar bersama untuk menjaga remaja tetap berada di jalur yang benar, bebas dari narkoba, miras, dan pergaulan bebas.
Peluit panjang terdengar di lapangan SMP Negeri 3 Bunyu. Sore itu, matahari perlahan turun, namun semangat para siswa tak ikut redup.
Dengan seragam Pramuka yang mulai basah oleh keringat, para remaja berbaris rapi, mengikuti arahan pembina. Di usia yang rawan dan penuh gejolak, mereka sedang belajar tentang disiplin, tanggung jawab, dan pengendalian diri.
Pendidikan Pramuka bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler pengisi waktu luang. Ia menjadi ruang aman bagi remaja, tempat mereka ditempa agar tidak terseret arus degradasi moral yang kian mengkhawatirkan. Pergaulan bebas, minuman keras, dan narkoba menjadi ancaman nyata bagi masa depan generasi muda, terutama di usia SMP yang dikenal labil dan mudah terpengaruh.
“Usia SMP adalah masa pencarian jati diri. Kalau tidak diarahkan dengan benar, anak-anak sangat rentan salah jalan. Pramuka kami jadikan sebagai benteng karakter,” ujar salah satu tenaga pendidik SMP Negeri 3 Bunyu, Desi.
Dalam setiap latihan, nilai-nilai Pramuka ditanamkan secara konsisten. Disiplin waktu, kerja sama regu, kepemimpinan, serta keberanian mengambil keputusan menjadi bagian dari proses pembentukan mental. Anak-anak diajak menyadari bahwa pilihan hidup hari ini akan menentukan masa depan mereka kelak.
Pendidikan karakter melalui Pramuka di SMP Negeri 3 Bunyu diarahkan untuk menyiapkan generasi muda yang kompetitif, bukan hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat secara mental dan moral. Generasi yang mampu berkata tidak pada narkoba, menjauhi miras, serta membangun pergaulan yang sehat dan bertanggung jawab.
“Kalau mental anak kuat, godaan apa pun bisa mereka hadapi. Kami ingin mereka tumbuh sebagai remaja yang berani bermimpi dan berani menjaga diri,” tegasnya.
Kesadaran inilah yang membuat pendidikan Pramuka di tingkat SMP menjadi sangat krusial. Remaja adalah warisan bangsa yang harus dijaga. Di tangan merekalah masa depan Indonesia Emas 2045 dipertaruhkan. Tanpa karakter yang kokoh, bonus demografi justru bisa berubah menjadi beban.
Di Kabupaten Bulungan, khususnya Pulau Bunyu, Pramuka dipandang sebagai wahana strategis untuk menyelamatkan generasi muda dari jurang kehancuran moral. Melalui aktivitas yang positif dan terarah, Pramuka mengalihkan energi remaja ke hal-hal produktif, belajar memimpin, berorganisasi, serta mengasah empati dan kepedulian sosial.
Lebih dari itu, Pramuka juga menanamkan nilai kepemimpinan. Setiap anggota regu dilatih untuk bertanggung jawab, berani mengambil peran, dan menghormati perbedaan. Karakter-karakter inilah yang kelak dibutuhkan bangsa, pemimpin masa depan yang bersih, berintegritas, dan berjiwa pengabdian.
Di lapangan sederhana SMP Negeri 3 Bunyu, peluit latihan kembali ditiup menandai akhir kegiatan. Anak-anak membubarkan barisan dengan wajah lelah namun puas. Di balik latihan rutin itu, sebuah harapan sedang dirajut, yakni lahirnya generasi muda Bunyu yang sehat jasmani, kuat mental, dan bersih dari narkoba, miras, serta pergaulan bebas.
Dari pulau kecil di utara Kalimantan ini, Pramuka menjadi penjaga masa depan. Menyemai karakter, melindungi remaja, dan menyiapkan generasi emas Indonesia 2045. Satu langkah disiplin, satu pilihan benar setiap hari.
![]()












































