Penulis : Frans Jefri (Sekretaris Gen Z for Indonesia)
Kaltara patut berbangga. Provinsi bungsu ini membawa pulang medali emas nasional sepanjang 2025. Namun, di tengah sorak sorai kemenangan, muncul suara sumbang. Pihak yang mengaku pakar keuangan justru memilih menyerang dengan narasi liar, mengabaikan semua bukti yang ada.
Mari kita lihat bagaimana fakta-fakta Kaltara membantah semua keraguan tersebut.
Prestasi yang Membungkam Keraguan
Fakta berbicara lebih keras daripada opini. Kaltara terbukti unggul berkat langkah strategis dan disiplin anggaran.
Menteri Perdagangan memberikan Primaniyarta Awards 2025 kepada Kaltara. Ini pengakuan tertinggi karena Kaltara terbukti mampu memajukan ekspor daerah. Selain itu, negara menganugerahi Kaltara tiga piala nasional berkat pengelolaan sumber daya manusia dan tenaga kerja yang terbukti efektif.
Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa kebijakan Pemprov berhasil dan mendapat legitimasi penuh dari pemerintah pusat.
Pola Tudingan yang Gagal Paham Hukum
Bastian Lubis, pihak yang mengaku pakar, melontarkan serangkaian tudingan sepanjang tahun 2025. Polanya selalu sama: menuding aspek teknis yang justru diwajibkan oleh undang-undang.
Mempertanyakan Kapasitas, Bukan Sekadar Tudingan
Publik Kaltara memiliki ingatan kuat. Bastian pernah memegang jabatan strategis, menjadi Ketua Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP). Jabatan itu memberinya otoritas dan akses penuh untuk melakukan perbaikan anggaran yang kini ia tuntut.
Faktanya, saat menjabat, Bastian justru gagal menunjukkan terobosan signifikan yang ia gembar-gemborkan sekarang. Ia memiliki kendali penuh atas rekomendasi anggaran dan program, tetapi kepemimpinannya justru lebih banyak menghasilkan “gaduh” birokrasi, bukan percepatan pembangunan.
Publik lantas bertanya, mengapa ia tidak melakukan perbaikan yang ia tuding sekarang, saat ia memiliki kuasanya? Ia gagal membuktikan diri dalam jabatan resminya. Ia kini hanya mampu membuat noise dari luar, setelah kekuasaan itu hilang.
Tudingan Samar dan Isu Guru
Bastian kerap mengutip narasumber samar—bisikan pejabat internal yang takut namanya disebut. Tudingan kuat harusnya berani tampil terbuka. Kaltara memilih percaya pada dokumen resmi, bukan pada gosip.
Contoh paling jelas terjadi pada Oktober 2025, saat ia menyerang isu tunjangan guru. Pemprov memilih taat hukum. Pemerintah daerah hanya menyesuaikan alokasi anggaran sesuai Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014. Pemprov patuh pada aturan ini, bukan atas dasar kepentingan sepihak.
Fakta Anggaran, Mematahkan Narasi Seret
Tudingan Bastian mengenai pengelolaan kas daerah Kaltara terbagi menjadi dua tudingan utama yang harus dibantah.
Analisis Prematur Soal Serapan
Sekitar Juni 2025, Bastian menuding serapan anggaran Kaltara seret. Ia mengabaikan mekanisme teknis APBD.
Pemprov harus memastikan proses lelang dan kontrak berjalan sesuai prosedur. Proyek besar memerlukan waktu; anggaran paling banyak pasti keluar pada Triwulan IV. Menuding serapan di tengah tahun adalah analisis prematur yang gagal memahami siklus pembangunan. Pemprov mengutamakan kualitas, bukan kecepatan yang ceroboh.
Uang di Bank, Kaltara Justru Disiplin Fiskal
Tudingan paling menyesatkan terjadi saat Bastian menuding Pemprov karena menyimpan dana di bank (deposit). Ia mengklaim uang rakyat menumpuk.
Faktanya, Pemprov justru menunjukkan disiplin fiskal luar biasa. Aturan keuangan negara mewajibkan Pemprov mendepositokan dana yang belum terpakai. Tindakan ini membuat uang tersebut menghasilkan bunga, yang langsung menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD) tambahan. Pemprov mengamankan uang rakyat sekaligus membuatnya bekerja.
Pakar Seharusnya Mengedukasi
Tidak ada pemerintahan yang sempurna. Namun, Bastian seharusnya menggunakan keahliannya untuk mengedukasi publik tentang kompleksitas APBD. Ia justru memilih menyederhanakan isu teknis menjadi narasi politik yang memicu kemarahan.
Kaltara sedang bergerak. Penghargaan Primaniyarta membuktikan strategi Kaltara sudah benar. Kaltara memilih fokus pada fakta dan hukum, bukan pada noise yang didasari ketidakpahaman. Mari kita dukung Kaltara untuk maju. Kaltara di Hati.
![]()













































