Connect with us

Hi, what are you looking for?

Ekonomi

Makin Terisolasi di Masa Pandemi Covid-19, Warga Dataran Tinggi Krayan Pilih Perluas Sawah

Masyarakat Krayan saat memanen padi organik Adan (dok.Helmi)

NUNUKAN – Warga perbatasan RI – Malaysia di dataran tinggi Krayan Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara mengisi waktu dengan memperluas sawah di masa pandemi Covid-19.

Wilayah yang berbatasan darat langsung dengan Malaysia ini mengalami kehidupan yang serba sulit.

Belum lagi kebijakan mengunci kawasan oleh negera tetangga, memutus sama sekali suplai bahan kebutuhan yang selama ini diperoleh dari Malaysia.

‘’Karena tidak boleh keluar kemana mana saat Covid-19, masyarakat termasuk anak-anak muda Krayan memilih menambah luas sawahnya’’ ujar Ketua Asosiasi Beras Adan Krayan, Jean Alang, melalui sambungan telepon, Jumat (29/3/2021).

Beras Adan Krayan sangat digemari di mancanegara. Setiap kali panen, pembeli dari Malaysia masuk ke Krayan membawa mobil-mobil bak terbuka untuk membeli padi Adan dan dijual kembali ke sejumlah Negara seperti Brunei Darussalam, Thailand hingga ke China.

Rasa khas dari pertanian organik ini, menjanjikan cita rasa dan kualitas berbeda ditinjau dari aspek kesehatan.

Beras adan tidak ditanam dengan pupuk ataupun semprotan pestisida, sehingga secara medis menjadi bahan makanan yang direkomendasikan.

Ada banyak varian beras Adan Krayan, ada beras putih, merah dan hitam, begitu pula dengan beras ketan.

‘’Luasan sawah kita bertambah, dari sekitar 2000 hektar di 2020, kini sekitar 3000 hektar. Dalam setiap hektar sawah, biasanya menghasilkan padi sekitar 4 ton lebih’’ kata Jein.

Bisa barter dengan Sembako dan kebutuhan lain.

Sebelum pandemi covid-19, hampir seluruh hasil panen petani Krayan dijual ke Malaysia.

Dalam muatan satu mobil bak terbuka, biasanya ada sekitar 60 karung beras, dengan berat 45 Kg per karung.

Warga Krayan, menjual beras dengan alat takar tradisional (kaleng red) yang merupakan tradisi turun temurun.

Baca Juga:  Fenomena Honorer Diberhentikan dan Aksi Walk Out Kadinkes Nunukan Setelah Membaca Pesan dari Bupati

Dalam 1 kaleng, berisi 15 kg dan dihargai sekitar Rp. 350.000.

‘’Tapi banyak juga yang barter. Masyarakat kita butuh sembako lain selain beras, bisa juga pesan barang kebutuhan lain untuk ditukar hasil panen’’ kata Jein lagi.

Meski mayoritas beras dijual oleh pembeli Malaysia dengan merk luar negeri, Jein mengaku tidak khawatir.

Beras Adan Krayan sudah memiliki Nomor Indikasi Geografis (IG).

Dijelaskan Jein, IG adalah tanda yang menunjukkan daerah asal suatu produk yang menitikberatkan pada faktor lingkungan geografis untuk meningkatkan nilai jual produk.

Hal ini diatur dalam UU Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis dan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2007 tentang Indikasi Geografis.

‘’Tapi semenjak pandemi, hasil panen kita menumpuk di gudang. Paling sekarang dijual ke Tarakan memanfaatkan program Jembatan Udara (Jembara). Kita membayar per kilogram Rp. 20.000, dan tidak banyak yang bisa dimuat’’ lanjutnya.

Sawah bertambah luas pasaran nihil.

Jein mengakui meskipun sawah di Krayan bertambah luas, masyarakat Krayan belum memiliki pangsa pasar di Indonesia.

Tidak pernah terbayangkan jika suatu saat Malaysia menutup total akses perbatasan seperti saat ini.

‘’Selama ini kalau dijual ke Malaysia tiada ampun, berapapun pasti habis. Tapi sekarang, semua berhitung harga mahal. Bagaimana tidak? Kita harus pakai pesawat terbang. Harga Tarakan saja harga per 15 kg sekitar Rp. 475.000, atau sekitar Rp. 30.000 lebih per Kg. Pembeli pasti memilih beras lain’’ keluhnya.

Selain pangsa pasar, eksistensi kerbau Krayan menjadi ancaman keberlangsungan padi Adan.

Pertanian organik Krayan sangat mengandalkan tenaga kerbau untuk membajak sawah. Kotoran dan air seni kerbau akan bercampur dengan hasil bajakan dan mengeluarkan unsur hara yang menyuburkan tanaman.

Baca Juga:  Belanja Perabotan di Bulan Muharram, Toko Pink Gelar Program Undian Berhadiah

Biasanya, warga Malaysia atau Brunei memesan kerbau Krayan untuk konsumsi. Daging kerbau Krayan juga menjadi daya tarik penikmat kuliner di luar negeri.

Jein mengatakan, sebelum pandemi dalam sebulan, terjual sebanyak 20 ekor kerbau.

‘’Masa pandemi sekarang ada untungnya juga, populasi kerbau tidak berkurang karena warga Malaysia atau Brunei tidak ada yang beli kerbau kami. Biasanya setiap bulan banyak yang datang membeli kerbau kami’’ tuturnya.

Eksistensi kerbau Krayan butuh perhatian serius.

Camat Krayan Induk, Heberly membenarkan jika saat ini pemasaran beras Adan tidak semassif sebelum pandemi covid-19.

Beras Adan Krayan butuh pangsa pasar dalam negeri. Sayangnya, untuk mengeluarkan beras Adan, transportasi satu satunya hanyalah pesawat terbang yang tentu secara otomatis berpengaruh pada harga jual
.
‘’Itu masalah kita sejak dulu. Krayan hanya bisa ditempuh dengan jalur udara dari Indonesia. Sementara Malaysia dekat dan itu memudahkan petani dalam menjual hasil panen tentunya’’ kata Heberly.

Sejauh ini, memang diakui terjadi penambahan luasan sawah di Krayan. Hal ini secara otomatis meningkatkan hasil produksi beras Adan. (Dzulviqor)

 1,604 dibaca,  3 dibaca hari ini

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kabar Lainnya

Olahraga

NUNUKAN – Sabri, salah satu Atlet panjat tebing asal Nunukan, yang pernah meraih medali emas (perorangan) pada PON XVII 2012 di Riau, Perunggu (perorangan)...

Hukum

Menanggapi keterlibatan dua angotanya, Syaiful menegaskan, tidak ada toleransi bagi anggotanya yang terlibat penyalahgunaan narkoba.

Nunukan

NUNUKAN – Baru kenal sekitar sebulan lewat jejaring sosial Facebook, Cecep Bagja (28) pemuda asal kota Garut, Jawa Barat, ini mantap terbang ke Nunukan...

Hukum

NUNUKAN – Satuan Resor Narkoba (Satreskoba) Polres Nunukan, kembali mengungkap kepemilikan narkoba golongan 1 jenis sabu-sabu seberat 3,8 kilogram, Kamis (27/05) malam. Sabu-sabu tersebut...