NUNUKAN, KN – Warga Jalan Pangkalan, Nunukan Timur, Kalimantan Utara, mendadak geger. Suara tangis bayi perempuan memecah keheningan dari sebuah rumah penuh tumpukan sampah. Seorang wanita pengidap gangguan jiwa (ODGJ) berusia 38 tahun baru saja melahirkan bayi mungil tersebut.
Masyarakat segera melaporkan kejadian memilukan ini ke Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSP3A) Nunukan. Petugas bergerak cepat mengevakuasi ibu dan anak itu dari hunian yang tidak layak.
Sampah Mengotori Tubuh Bayi
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial DSP3A Nunukan, Yarius, menceritakan kondisi miris saat timnya tiba di lokasi. Sampah yang menggunung memenuhi setiap sudut ruangan tempat si kecil pertama kali menghirup udara dunia.
“Saat kami ke sana, tubuh bayinya sangat kotor karena rumahnya penuh dengan sampah. Kita bawa keduanya ke shelter, kita rawat dan kita bersihkan bayinya,” ujar Yarius melalui sambungan telepon, Rabu (6/5/2026).
Meskipun kondisi kejiwaannya terganggu, sang ibu menunjukkan sisi kemanusiaan yang menyentuh. Ia mendekap erat buah hatinya seperti wanita normal. Rasa kasih sayang terpancar saat ia memberikan air susu ibu (ASI) untuk menenangkan sang bayi.
Sisi Gelap di Balik Kelahiran
Kelahiran bayi ini menyingkap tabir kelam kehidupan sang ibu selama menetap sendiri di Nunukan. Wanita bertubuh sintal tersebut bertahan hidup dengan cara memilukan. Ia kerap melayani pria hidung belang demi mendapatkan uang makan.
Yarius mengungkapkan fakta menyedihkan mengenai lingkungan sosial wanita tersebut. Banyak laki-laki melakukan perbuatan tidak pantas kepada sang ibu di sembarang tempat yang sepi.
“Banyak laki-laki yang melakukan perbuatan tak pantas itu kepada si wanita. Perbuatan itu dilakukan di sembarang tempat, asalkan sepi,” tutur Yarius.
Petugas kesulitan menggali identitas ayah sang bayi. Wanita itu sama sekali tidak mengingat satu pun nama pria yang pernah menidurinya. Ia hanya menyebutkan ada banyak lelaki yang melakukan perbuatan tersebut kepadanya.
Langkah Penanganan dan Pengawasan
Pihak DSP3A kini berupaya keras mengusut pria yang bertanggung jawab atas kelahiran bayi tersebut. Petugas mencoba melacak jejak pelaku meskipun menghadapi kendala keterbatasan ingatan sang ibu.
“Ini salah satu masalah yang buat kami pusing juga. Tapi kami coba lacak, kita telusuri siapa laki-laki yang bertanggung jawab. Semoga bisa kita temukan,” tambahnya.
Untuk sementara waktu, petugas menampung ibu dan bayi di rumah aman (shelter). DSP3A juga menggandeng polisi dan masyarakat untuk membersihkan rumah tinggal wanita tersebut.
Petugas akan memulangkan mereka setelah hunian tersebut bersih dan layak. Namun, Pekerja Sosial (Peksos) akan memberikan pengawasan serta penjagaan melekat.
“Kita hanya bisa tampung tujuh hari di shelter. Selanjutnya kita pulangkan, kita akan berusaha sering melakukan kunjungan untuk memantau terus kondisi ibu dan bayinya,” tutup Yarius. (Dzulviqor)
![]()














































