Oleh : Lia
Langit masih gelap. Pukul 05.48 Wita, Pelabuhan Mansalong sudah sibuk. Bunda Rahmawati tiba. Sepatu kets. Celana panjang. Jaket lapangan. Tidak ada aura ningrat.
Saya satu perahu dengan beliau. Rombongan kami membelah arus sungai Sembakung menggunakan tiga perahu. Mesin menderu. Adrenalin terpacu hebat. Perahu menghantam giram-giram ganas. Kami berpegangan erat. Tiga setengah jam kami habiskan di air. Jauh sekali. Menguras tenaga.
Saya mengamati beliau sepanjang jalan. Banyak orang melabeli beliau tidak cakap. Saya ingin pembuktian. Benarkah itu? Atau cuma kabar angin?
Tahu-tahu perahu bersandar di PLBN Labang.
Bunda tidak duduk diam. Beliau bergerak cepat. Beliau masuki setiap ruangan. Beliau amati tiap sudut kantor. Beliau tanya detail kendala para staf.
Beliau menemukan masalah. Tenaga kesehatan minim. Fasilitas kesehatan jauh dari layak. Para karyawan kaget. Pejabat biasanya datang untuk seremoni. Beliau justru membedah akar masalah.
Kami melanjutkan perjalanan ke Desa Sumantipal. Mata beliau berkaca-kaca melihat megahnya bangunan PLBN Labang milik kita. Lalu beliau melirik desa di sebelahnya. Desa itu tertatih-tatih. Kontras itu menampar perasaan. Beliau terdiam lama. Kemarahan tertahan di dada.
Anak-anak desa menyambut dengan tarian tradisional. Riang sekali. Bunda duduk menyimak keluhan warga. Kepala desa bicara. Tokoh adat bicara. Beliau dengarkan semuanya. Tak ada satupun kata beliau potong.
”Saya akan kembali,” janji beliau mantap. “Saya akan menginap di sini.”
Beliau punya rencana. Beliau bawa instruktur kerajinan. Warga butuh keahlian. Desa harus mandiri. Harus produktif.
Ingatan saya melayang ke sepekan lalu. Banjir kiriman Malaysia menerjang desa ini. Air meluap tinggi. Lumpur di mana-mana. Infrastruktur desa hancur lebur.
Bunda langsung bertindak. Uang Rp50 juta keluar dari kantong pribadi. Beliau serahkan dana itu untuk perbaikan saluran air. Beliau tuntaskan masalah sanitasi yang rusak parah. Tanpa debat. Tanpa pidato. Langsung solusi.
Langkah kaki beliau terasa berat meninggalkan desa itu. Beliau masih ingin terus mendengar keluhan warga. Mila, sang ajudan setia, akhirnya menghampiri. Mila mengingatkan agenda lain. Kita harus segera pulang. Kita menghindari malam di tengah sungai. Kita masih harus menempuh perjalanan darat ke Tanjung Selor. Ibu kota Kaltara menanti.
Sebelum pulang, kami mampir di pos TNI. Prajurit muda berbaris. Bunda bagikan jaket ke mereka satu per satu.
TNI tidak punya hak pilih. Memberi bantuan ke mereka tanpa hitungan politik. Beliau tetap memberi. Beliau hanya ingin para penjaga perbatasan itu merasa hangat saat bertugas.
Saya perhatikan wajah beliau sepanjang jalan pulang. Tak ada lelah. Beliau bekerja mengalir seperti air. Ketenangan itu menghanyutkan keraguan saya tadi pagi.
Politik itu wujud kehadiran saat masyarakat butuh tangan. Politik itu tindakan nyata. Bunda sudah buktikan itu hari ini. Beliau hadir di perbatasan, di tengah sisa lumpur Sungai Sembakung yang penuh cerita.
Kunjungan lapangan membuka tabir masalah sebenarnya. Politisi lain sibuk berdebat di ibu kota. Rahmawati memilih basah kuyup di perbatasan. Nasionalisme butuh bukti nyata. Butuh tindakan langsung.
![]()





Leave a Reply
View Comments