Site icon Kabar Nunukan

Niat Didik Anak Berujung Sel: Nasib Apes Sopir Truk di Nunukan

NUNUKAN, KN — Seorang sopir truk di Nunukan, Kalimantan Utara, kini mendekam di balik jeruji besi. Nasibnya berubah drastis setelah ia memukul komplotan pencuri yang menyatroni rumahnya. Alih-alih mendapat simpati, pria ini justru terjerat hukum.

​Keluarga para pelaku pencurian menolak aksi kekerasan tersebut. Mereka melaporkan sang sopir ke polisi karena melihat luka memar pada tubuh anak-anaknya.

​Kapolsek Nunukan Kota, Iptu Disco Barasa, menyebut kasus ini unik. Korban dan pelaku kini saling lapor ke pihak berwajib.

​Motif Remaja: Demi Top Up Game

​Aksi pencurian ini melibatkan seorang bocah laki-laki berusia 13 tahun. Ia mengajak dua temannya yang berumur 14 tahun untuk menggasak tabung gas LPG serta onderdil mesin truk.

​Kawanan remaja ini menyasar rumah lama milik ayah tiri si bocah. Mereka merusak pintu rumah demi mengambil perkakas besi dan peralatan truk di dalamnya.

​”Korban ingin mendidik anaknya. Ia memukul mereka menggunakan kayu semacam mistar sebagai peringatan. Karena ada tiga anak, ia memukul ketiganya,” ujar Barasa, Selasa (5/5/2026).

​Seteru di Meja Hijau

​Tindakan sang sopir memicu reaksi keras dari orang tua kedua teman anaknya. Kondisi memar pada tangan anak-anak tersebut menjadi dasar laporan polisi.

​”Masalah bermula di sini. Orang tua kedua pelaku melaporkan sang sopir. Sebaliknya, korban juga melapor karena kehilangan barang. Ceritanya mereka saling lapor,” lanjut Barasa.

​Sang sopir sebenarnya sudah memaafkan ulah anak tirinya. Namun, orang tua pelaku lainnya tetap menuntut proses hukum atas nama perlindungan anak.

​Mendorong Keadilan Restoratif

​Pihak kepolisian masih mengupayakan mediasi untuk menyelesaikan pertikaian ini. Barasa menilai kedua belah pihak perlu melakukan introspeksi diri.

​”Kami sedang mengupayakan mediasi. Perbuatan anak-anak itu salah, namun memukul anak juga melanggar aturan. Kami mencoba mencari jalan ishlah dulu,” jelas Barasa.

​Ia menambahkan, motif pencurian ini tergolong sepele karena hanya demi memenuhi gaya hidup.

​”Anak-anak mencuri karena ingin membeli pulsa top up game, membeli kopi, dan nongkrong. Hal ini membutuhkan kesadaran masing-masing orang tua. Kami berharap mekanisme restorative justice bisa menyelesaikan kasus ini,” pungkas Barasa. (Dzulviqor)

Exit mobile version