<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anak Perbatasan - Kabar Nunukan</title>
	<atom:link href="https://kabarnunukan.com/tag/anak-perbatasan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Portal Berita Kalimantan Utara</description>
	<lastBuildDate>Wed, 19 Nov 2025 05:42:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://kabarnunukan.com/wp-content/uploads/2026/01/cropped-logo-kabar-nunukan-2026-32x32.png</url>
	<title>Anak Perbatasan - Kabar Nunukan</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ikon Perbatasan RI-Malaysia Terancam Mati, Jembatan Ambruk MI Darul Furqon, Ratusan Anak TKI Menanti Aksi Pemerintah</title>
		<link>https://kabarnunukan.com/mi-darul-furqon-jembatan-ambruk-anak-tki/</link>
					<comments>https://kabarnunukan.com/mi-darul-furqon-jembatan-ambruk-anak-tki/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[KN]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2025 04:03:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Perbatasan]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Perbatsan]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Furqon]]></category>
		<category><![CDATA[Kaltara]]></category>
		<category><![CDATA[Nunukan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarnunukan.com/?p=13389</guid>

					<description><![CDATA[<p>NUNUKAN, KN — Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Furqon di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, sebuah sekolah yang sering kita banggakan sebagai &#8220;ikon pendidikan perbatasan&#8221;, kini berada di ujung tanduk. Banjir yang menghantam pada 5 November 2025 merobohkan satu-satunya jembatan akses. Imbasnya, nasib 48 murid, yang 90 persen di antaranya adalah anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarnunukan.com/mi-darul-furqon-jembatan-ambruk-anak-tki/">Ikon Perbatasan RI-Malaysia Terancam Mati, Jembatan Ambruk MI Darul Furqon, Ratusan Anak TKI Menanti Aksi Pemerintah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarnunukan.com">Kabar Nunukan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p data-path-to-node="5"><b>NUNUKAN, KN</b> — Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Furqon di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, sebuah sekolah yang sering kita banggakan sebagai &#8220;ikon pendidikan perbatasan&#8221;, kini berada di ujung tanduk. Banjir yang menghantam pada 5 November 2025 merobohkan satu-satunya jembatan akses. Imbasnya, nasib 48 murid, yang 90 persen di antaranya adalah anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Malaysia, kini terancam putus sekolah.</p>
<p data-path-to-node="6">Kerusakan infrastruktur ini tidak hanya memutus akses belajar, tetapi juga menguji komitmen Pemerintah Daerah Nunukan terhadap pendidikan di garis depan RI. Anak-anak TKI ini kini harus menghadapi pilihan sulit, bergelut dengan lumpur atau meninggalkan bangku sekolah.</p>
<h3>Akses Pendidikan di Sebatik, Berlumpur dan Berbahaya</h3>
<p data-path-to-node="8">Jembatan utama yang ambruk membuat aparat, pemerintah, dan warga terpaksa bergotong royong membuka jalan alternatif darurat menembus perkebunan. Namun, jalan pintas itu segera menjadi kubangan berlumpur yang berbahaya begitu musim hujan turun.</p>
<p data-path-to-node="9">&#8220;Kami harus menggulung celana demi melewati jalanan becek berlumpur menuju sekolah,&#8221; ujar Kepala MI Darul Furqon, Adnan Lolo, saat kami hubungi pada Kamis (20/11/2025). Adnan menekankan bahwa ini adalah pengorbanan yang berat. &#8220;Inilah perjuangan dan pengabdian seorang guru di perbatasan,&#8221; imbuhnya.</p>
<p data-path-to-node="10">Namun, pengorbanan itu terlalu mahal bagi para murid.</p>
<p data-path-to-node="11">Murid-murid yang biasa berangkat subuh untuk menuntut ilmu kini banyak yang memilih absen. Jalanan licin membuat mereka sering terjatuh. Adnan Lolo membenarkan, banyak orang tua murid mengeluh.</p>
<p data-path-to-node="12">&#8220;Orang tua murid bertanya, sampai kapan mereka harus melewati jalanan itu? Apakah jembatan tidak akan pemerintah bangun sehingga mereka harus selamanya melewati jalanan jelek,&#8221; kata Adnan, menirukan keresahan warga.</p>
<h3>Rayuan Guru di Kamp Sawit Terancam Sia-sia</h3>
<p data-path-to-node="14">Bagi Adnan Lolo, mendapatkan murid untuk MI Darul Furqon adalah pekerjaan yang tidak mudah. Setiap tahun ajaran baru, ia harus menyeberang dan masuk ke kamp-kamp kelapa sawit di wilayah Malaysia. Ia secara pribadi merayu orang tua TKI agar mau menyekolahkan anak-anak mereka di madrasah itu, dengan segala keterbatasan yang ada.</p>
<p data-path-to-node="15">Upaya keras bertahun-tahun itu kini terancam sia-sia.</p>
<p data-path-to-node="16">&#8220;Sejak jembatan ambruk, setiap hari saya menerima pesan dari orang tua murid yang mengeluh dan berniat memindahkan anaknya ke sekolah lain,&#8221; keluh Adnan. Anak-anak TKI itu kini terancam memilih bekerja membantu orang tua di kebun, alih-alih bergelut dengan lumpur menuju Darul Furqon.</p>
<h3>Desakan DPRD dan Harapan Anggaran Urgensi</h3>
<p data-path-to-node="18">Menanggapi kondisi kritis ini, Anggota DPRD Nunukan, Andre Pratama, langsung mendesak Pemkab Nunukan melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPUPR) segera melakukan perencanaan dan perbaikan jembatan. Menurut Andre, pemerintah harus menggunakan Anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) karena situasi ini tergolong sangat mendesak (urgensi).</p>
<p data-path-to-node="19">&#8220;Tadi pagi saya sudah koordinasi dengan Kabid Bina Marga DPUPR Nunukan untuk melakukan pengecekan,&#8221; kata Andre. Ia meminta Pemkab bergerak cepat agar aktivitas belajar mengajar di MI Darul Furqon kembali normal.</p>
<p data-path-to-node="20">Adnan Lolo menegaskan, MI Darul Furqon bukan sekadar bangunan sekolah biasa. &#8220;Sekolah ini dianggap salah satu <b>ikon Sebatik</b> sebab posisinya berada di tapal batas dua negara,&#8221; tegasnya.</p>
<p data-path-to-node="21">Pemerintah Daerah Nunukan harus segera merealisasikan pembangunan jembatan permanen untuk melindungi masa depan anak-anak di perbatasan dan mengembalikan martabat &#8220;ikon&#8221; pendidikan Indonesia ini. (Dzulviqor)</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarnunukan.com/mi-darul-furqon-jembatan-ambruk-anak-tki/">Ikon Perbatasan RI-Malaysia Terancam Mati, Jembatan Ambruk MI Darul Furqon, Ratusan Anak TKI Menanti Aksi Pemerintah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarnunukan.com">Kabar Nunukan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://kabarnunukan.com/mi-darul-furqon-jembatan-ambruk-anak-tki/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Di Hari Ulang Tahun Kemerdekaan, Kita Diuji</title>
		<link>https://kabarnunukan.com/di-hari-ulang-tahun-kemerdekaan-kita-diuji/</link>
					<comments>https://kabarnunukan.com/di-hari-ulang-tahun-kemerdekaan-kita-diuji/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[KN]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Aug 2025 02:29:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Perbatasan]]></category>
		<category><![CDATA[HUT ke 80 RI]]></category>
		<category><![CDATA[Kaltara]]></category>
		<category><![CDATA[Korupsi Bank Kaltimtara]]></category>
		<category><![CDATA[Nunukan]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta Rakyat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarnunukan.com/?p=12392</guid>

					<description><![CDATA[<p>Renungan di Perayaan HUT ke 80 RI</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarnunukan.com/di-hari-ulang-tahun-kemerdekaan-kita-diuji/">Di Hari Ulang Tahun Kemerdekaan, Kita Diuji</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarnunukan.com">Kabar Nunukan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Catatan Kemerdekaan Reporter STI FM (S Priyadi)</strong></p>
<p>Maka ada yang aneh dengan ulang tahun kita kali ini. <strong>Usia 80 tahun</strong>, mestinya sudah mapan. Mestinya sudah tenang. Sudah bisa bersandar. Tapi malah kaget. Kagetnya dua kali lipat.</p>
<p>​Pada hari ini, <strong>17 Agustus 2025</strong>, saat tiang-tiang bendera menjulang tinggi di setiap sudut desa dan kota, ada dua berita yang datang dari <strong>Kalimantan Utara.</strong></p>
<p>Dua cerita yang terjadi dalam <strong>satu panggung yang sama</strong>, tapi seolah bicara soal dua negara yang berbeda.</p>
<p>Kabar pertama dari <strong>Tanjung Selor</strong>. Kabar kedua dari <strong>Nunukan</strong>.</p>
<p>​Kabar dari Tanjung Selor adalah kabar duka. Bukan duka cita, tapi <strong>duka moral</strong>.</p>
<p>Ada dugaan korupsi yang nilainya bikin kepala pusing. <strong>Rp 275,2 miliar</strong>. Uang yang diduga dijarah dari dugaan kredit fiktif di Bank Kaltimtara.</p>
<p><strong>Polda Kaltara</strong> bergerak serentak. Tiga kantor digeledah. Dua di Tanjung Selor, satu di Nunukan.</p>
<p>​Maka, mudah sekali uang negara menguap begitu saja. Angkanya seperempat triliun lebih.</p>
<p>Uang sebanyak itu seharusnya bisa menjadi jembatan untuk masa depan. Bisa untuk membangun puluhan sekolah, puluhan rumah sakit, atau paling tidak, puluhan lapangan sepak bola berstandar FIFA di seluruh pelosok Kaltara.</p>
<p>​Tapi, tidak.</p>
<h1>​Ketika Uang Jadi Misteri</h1>
<p>​Maka ada satu hal lagi yang membuat hati miris. Pada perayaan 17 Agustus, banyak komunitas berlomba-lomba mengajukan proposal.</p>
<p>Ada yang ingin mengadakan lomba panjat pinang, ada yang ingin menggelar festival seni. Tujuannya satu, <strong>mengadakan pesta rakyat</strong>, memeriahkan hari kemerdekaan.</p>
<p>Mereka mendatangi berbagai kantor. Termasuk <strong>perbankan</strong> di Nunukan.</p>
<p>Tapi, responsnya sering kali mengecewakan. Terutama dari pihak perbankan.</p>
<p>Tak hanya Bank Kaltimtara, <strong>banyak bank lain</strong> yang juga sulit merespons.</p>
<p>Responsnya dingin. Mereka selalu punya alasan. Alasannya klasik <strong>&#8220;Anggaran terbatas&#8221;</strong> atau <strong>&#8220;Belum ada alokasi&#8221;.</strong></p>
<p>​Maka, proposal setebal buku pun sering kali hanya berakhir di laci meja.</p>
<p>Anak-anak yang antusias ingin ikut lomba lari karung <strong>harus gigit jari</strong>.</p>
<p>Pesta rakyat itu akhirnya digelar seadanya, mengandalkan <strong>dana swadaya.</strong></p>
<p>Di satu sisi, uang ratusan miliar bisa dengan mudahnya dijarah dari dalam sebuah bank.</p>
<p>Di sisi lain, untuk puluhan proposal yang hanya butuh puluhan juta rupiah demi <strong>kebahagiaan rakyat,</strong> alirannya justru macet.</p>
<h2>​Mereka Punya Anggaran, Kita Cuma Punya Janji</h2>
<p>​Bersamaan dengan kabar duka itu, saya membaca <strong>cerita lain</strong>.</p>
<p>Ceritanya ada di kolom komentar media sosial halaman <strong>Facebook Kabar Nunukan.</strong></p>
<p>Mengeluhkan hal yang sama sekali berbeda. Soal bakat-bakat muda. Bakat sepak bola.</p>
<p>Di pedalaman sana, banyak sekali anak-anak dengan <strong>kaki-kaki lincah</strong>. Mereka bermain di <strong>lapangan debu, tanpa sepatu.</strong> Calon-calon bintang masa depan.</p>
<p>Ironisnya, saat ini euforia bola lagi menggeliat. Ada <strong>Bupati Cup 2025</strong> dan <strong>Piala Soeratin U 17</strong> regional Kaltara yang sedang berlangsung. Semua digelar di stadion Sei Bilal Nunukan.</p>
<p>Mereka punya turnamen. Mereka punya semangat. Tapi mereka tidak punya harapan. Mereka tidak punya pembinaan. Alasan itu bernama <strong>&#8220;anggaran&#8221;.</strong></p>
<p>​Maka, di saat yang sama, Rp 275 miliar uang lenyap dari sebuah bank. Hanya karena segelintir orang.</p>
<p>Di sisi lain, ribuan anak muda kehilangan mimpi hanya karena selembar kertas bertuliskan <strong>“anggaran tidak cukup”.</strong></p>
<h3>​Ketika Semua Sudah Lengkap, Kecuali Kita</h3>
<p>​Maka di hari ulang tahun ini, di antara riuh tepuk tangan dan kibaran bendera, kami, yang selama ini luput dari anggaran, <strong>ingin menyampaikan rasa syukur.</strong></p>
<p>Kami bersyukur, di tengah semua kabar duka tentang uang negara yang menguap, <strong>kami masih bisa berdiri.</strong></p>
<p>Kami bersyukur, di tengah sulitnya mencari dana untuk pesta rakyat, <strong>kami masih bisa mengadakan lomba seadanya.</strong></p>
<p>Kami bersyukur, di tengah mimpi kami yang terabaikan, <strong>kami masih bisa menendang bola di lapangan tanah,</strong> berteriak &#8220;Merdeka!&#8221; dengan suara serak.</p>
<p>​Maka kami bersyukur, <strong>kemerdekaan ini masih terasa.</strong>  Meskipun tidak terasa utuh. Meskipun tidak adil.</p>
<p>Kemerdekaan ini milik kita. Milik para pemimpi yang hanya bermodal keringat.</p>
<p>Milik para panitia 17-an yang hanya bermodal iuran.</p>
<p>Milik kami, yang hari ini hanya bisa menatap jauh dari Nunukan, sambil bertanya,</p>
<p>​Sudah 80 tahun. <strong>Apa yang kurang?</strong></p>
<p>​Kami punya bakat. Kami punya semangat. Kami punya mimpi.</p>
<p>Lalu, mengapa kami tidak punya kesempatan?</p>
<p>Mengapa uang yang seharusnya jadi <strong>jembatan</strong> bagi kami, justru menjadi <strong>jurang</strong>?</p>
<p>​Maka kami hanya bisa mengucapkan, <strong>&#8220;Dirgahayu Republik Indonesia. Merdeka!&#8221;</strong></p>
<p>Merdeka dari korupsi. Merdeka dari ketidakpedulian. Dan merdeka dari janji-janji yang tak pernah sampai.</p>
<p>​Semoga di ulang tahun ke-81, kami bukan lagi bagian dari cerita yang <strong>terabaikan</strong>. Salam saya!</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarnunukan.com/di-hari-ulang-tahun-kemerdekaan-kita-diuji/">Di Hari Ulang Tahun Kemerdekaan, Kita Diuji</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarnunukan.com">Kabar Nunukan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://kabarnunukan.com/di-hari-ulang-tahun-kemerdekaan-kita-diuji/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
