Connect with us

Hi, what are you looking for?

Nunukan

Ritual Ma’Nene di Nunukan, Seruan Kasih Sayang dan Pesan Damai Etnis Toraja dari Perbatasan RI – Malaysia Jelang Paskah

Salah satu jenazah yang di Ma'Nenekan di pemakaman umum Toraja Nunukan. Ma'Nene jelang paskah mengandug seruan kasih sayang dan menghargai perbedaan.

NUNUKAN – Meski berada di perantauan warga Tana Toraja yang ada di Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara hingga saat ini rutin menggelar ritual adat mereka yang sudah menjadi tradisi turun temurun dan menjadi salah satu kekayaan warisan budaya yang ada di Indonesia.

Seperti tahun ini, jelang perayaan Paskah 2021 warga Tana Toraja di Nunukan menggelar ritual Ma’Nene.

Ritual adat Ma’Nene jelang Paskah mengandung pesan mendalam berkaitan dengan gencarnya isu terorisme di sejumlah daerah di Nusantara akhir-akhir ini.

‘’Ma’Nene mengajarkan orang mati saja harus dikasihi, diperhatikan dengan penuh ketulusan. Apalagi kepada makhluk hidup. Itu salah satu pesan yang ingin kami sampaikan dari suku Toraja di perbatasan RI’’ ujar Ketua Ikatan Kerukunan Toraja (IKAT) Mesak Adianto, Jumat (2/4/2021).

Pemilihan waktu ritual Ma’Nene menjelang Paskah, memang dari hasil kesepakatan IKAT. Mereka ingin menyerukan betapa kasih sayang akan memunculkan kedamaian.

Mesak menambahkan, Paskah adalah ketika Tuhan Yesus dibangkitkan untuk misi mengasihi umat dan bukan menjadikan mereka buas, sehingga menanggalkan nurani dan tega membunuh sesama manusia.

Selain itu, Ma’Nene dilakukan saat mayoritas keluarga besar berkumpul. Mereka yang merantau dengan banyak profesi, saling bekerja sama dengan peran masing-masing saat Ma’Nene.

‘’Ma’Nene juga mengajarkan kebersamaan. Toleransi di tengah perbedaan, karena perbedaan bukan untuk saling membenci. Sehingga nilai luhur yang penuh kasih ini, menjadi pesan yang ingin kami sampaikan’’ kata Mesak.

Dalam adat istiadat Toraja, Ma’Nene dikenal dengan prosesi ”merawat mayat”.

Jenazah yang telah terkubur bertahun tahun di Patane (makam suku Toraja) dibongkar untuk diganti peti matinya juga pakaiannya, untuk menjaganya agar tetap bersih meski jasadnya lapuk dimakan usia.

Baca Juga:  Deteksi Dini Narkoba, BNNK Nunukan Lakukan Tes Urine di Sebatik

Pendeta Timotius mengatakan ritual Ma’Nene ini digelar setelah mendapat kesepakatan para anggota kerukunan.

‘’Kebetulan tahun ini momennya Paskah, jadi ini sebuah upacara dengan penuh harapan juga doa’’ ujarnya.

Pendeta Timotius adalah salah satu keluarga jenazah yang melakukan pembongkaran makam keluarga, di Patane Nunukan.

Terlihat sebuah peti kayu yang tak lagi utuh akibat lapuk dimakan rayap. Di dalamnya terdapat jenazah berpakaian rapi yang menyisakan tulang belulang yang juga hancur.

Yang masih utuh hanya tengkorak kepala bagian atas, sementara lainnya sudah sangat rentan sentuhan.

Tidak ada bau busuk yang menyengat hidung. Hanya udara sekitar yang penuh dengan debu akibat sapuan kuas dari orang-orang yang bertugas membersihkan jenazah.

Begitu juga tidak ada raut muka kengerian yang terlihat dari keluarga jenazah. Selesai dibersihkan, jenazah lalu dijemur.

Jenazah tersebut adalah seorang laki-laki kelahiran 1922 yang dimakamkan pada tanggal 27 April 1994 bernama Senga.

Di Patane Nunukan, terlihat beberapa anggota keluarga menyiapkan jamuan makan, minum dan kue-kue tradisional sambil menikmati ritual Ma’Nene.

‘’Kita baru Ma’Nenekan setelah 17 tahun. Meski tidak sama dengan prosesi adat di Toraja, tapi ini juga pelestarian budaya kita di perbatasan RI yang dihuni banyak etnis’’ imbuhnya.

Setelah seluruh keluarga besar melihat kondisi jenazah, beberapa orang kemudian menata kerangka tulang belulang jenazah, sebagaimana susunan yang benar.

Pakaian jenazah diganti baru, dengan model dan warna yang disukai ketika hidup dulu.

Setelah rapi, jenazah dibungkus selimut tebal lalu diikat layaknya mengikat kain kafan dan dimasukkan dalam peti.

Setelah itu, peti berisi jenazah dimasukkan kembali ke dalam bangunan makam.

Saat melakukan Ma’Nene, asap mengepul dari pembakaran pa’piong (daging babi yang dibakar dalam bambu).

Baca Juga:  Pemilihan RT Dibatasi Usia 70 Tahun, Wilayah ini Baru Gelar Pemilihan RT Setelah 32 Tahun

Jamuan tersebut dibeli dengan uang hasil urunan keluarga jenazah dan menjadi menu santap siang keluarga besar jenazah.

Sejumlah perbedaan atau tahapan Ma’Nene yang tidak sama persis dengan ritual asli Toraja, tidak berarti mengurangi kesakralan acara yang menjadi warisan nenek moyang suku Toraja tersebut.

‘’Prinsipnya adalah kita menghormati orang yang meninggal. Kita muliakan mereka yang artinya kasih sayang kita masih terus melekat. Jadi meski sedikit berbeda dalam pelaksanaan, makna dan tujuannya sama’’ katanya. (Dzulviqor)

 4,978 dibaca,  3 dibaca hari ini

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kabar Lainnya

Olahraga

NUNUKAN – Sabri, salah satu Atlet panjat tebing asal Nunukan, yang pernah meraih medali emas (perorangan) pada PON XVII 2012 di Riau, Perunggu (perorangan)...

Hukum

Menanggapi keterlibatan dua angotanya, Syaiful menegaskan, tidak ada toleransi bagi anggotanya yang terlibat penyalahgunaan narkoba.

Nunukan

NUNUKAN – Baru kenal sekitar sebulan lewat jejaring sosial Facebook, Cecep Bagja (28) pemuda asal kota Garut, Jawa Barat, ini mantap terbang ke Nunukan...

Hukum

NUNUKAN – Satuan Resor Narkoba (Satreskoba) Polres Nunukan, kembali mengungkap kepemilikan narkoba golongan 1 jenis sabu-sabu seberat 3,8 kilogram, Kamis (27/05) malam. Sabu-sabu tersebut...