Laporan Reporter Radio STI FM (Kopang)
TANJUNG SELOR, KN – Persoalan infrastruktur jalan poros Tanah Kuning–Tanjung Selor dan akses perbatasan Krayan memicu diskusi hangat. Publik menagih janji pembangunan yang mereka anggap lambat. Namun, kondisi keuangan pusat saat ini menyimpan tantangan regulasi serta teknis yang menghambat percepatan tersebut.
Strategi Gubernur Hadapi Efisiensi Pusat
Kondisi fiskal nasional memaksa pemerintah pusat melakukan pengetatan anggaran secara menyeluruh. Jakarta menerapkan skala prioritas sangat ketat melalui kebijakan penyesuaian otomatis (automatic adjustment). Langkah ini berdampak langsung pada aliran dana ke daerah, termasuk proyek strategis di Kalimantan Utara.
Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltara terus memperjuangkan anggaran di tingkat pusat meski menghadapi ketergantungan fiskal yang tinggi. Situasi ekonomi global serta dinamika geopolitik saat ini menuntut daerah melakukan efisiensi ketat. Namun, Gubernur tetap menempatkan pembangunan Krayan sebagai salah satu fokus utama. Dalam tiap kesempatan, Gubernur terus menyuarakan dan mencari sumber dana di pusat untuk memastikan pembangunan infrastruktur tetap berjalan.
Benturan Aturan dan Kas Negara
Status jalan turut menjadi penghambat utama di lapangan. Banyak pihak kerap mencampuradukkan kewenangan antara pemerintah daerah dan pusat. Proyek jalan poros sering kali membentur aturan birokrasi kaku mengenai pembagian tanggung jawab anggaran. Tanpa sinkronisasi status jalan yang jelas, kucuran dana APBN sulit mengalir secara instan ke daerah.
Seruan Bijak dari Tana Tidung
Tokoh pemuda Kabupaten Tana Tidung, Natalius Jhon, menanggapi riuh rendah tuntutan masyarakat ini dengan kepala dingin. Ia meminta warga Kalimantan Utara melihat persoalan secara jernih serta objektif. Menurutnya, tudingan terhadap pemerintah mengenai janji hampa tanpa memahami kendala teknis merupakan langkah kurang tepat.
Natalius Jhon mengingatkan masyarakat agar memahami kerumitan membangun di wilayah ekstrem. Ia menilai pembangunan di Kaltara memerlukan ketahanan anggaran yang kuat serta perencanaan matang.
“Pembangunan infrastruktur di Kalimantan Utara, apalagi sampai menembus Krayan, itu urusan logistik yang mahal dan aturan anggaran pusat yang kaku. Sebagai pemuda, kita harus kritis namun tetap bijak melihat proses ini. Pemerintah sedang menyusun langkah strategis agar pembangunan ini berkelanjutan, bukan asal jadi lalu rusak lagi dalam setahun,” ujar Natalius Jhon.
Tantangan Alam Krayan
Selain kendala angka di atas kertas, medan geografis Krayan menyajikan tantangan nyata. Pengiriman material bangunan ke wilayah perbatasan memerlukan jalur udara atau melintasi hutan belantara yang sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Natalius Jhon menegaskan tantangan alam ini merupakan fakta lapangan, bukan alasan untuk menunda pekerjaan. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat terus mengawal proses birokrasi di level kementerian daripada terjebak dalam narasi provokatif.
“Membangun di daerah seperti Krayan itu tantangannya pada logistik dan regulasi anggaran. Situasi efisiensi anggaran sekarang tentu membuat provinsi mengalami kesulitan untuk melakukan pembangunan dengan anggaran besar. Padahal Gubernur terus menyuarakan dan mencari anggaran di pusat untuk Kaltara. Mari kita jadi masyarakat yang bijak: kawal terus progresnya dan pahami kendala anggarannya,” pungkas tokoh pemuda Tana Tidung tersebut.
Hingga saat ini, pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur masih memprioritaskan pembangunan infrastruktur sebagai agenda utama. Upaya maksimal tersebut terus berjalan guna memangkas kebuntuan anggaran pusat agar manfaat pembangunan segera sampai ke tangan rakyat.
![]()





Leave a Reply
View Comments