TANJUNG SELOR – Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltara, Yosua Batara Payangan, berkomitmen mengubah wajah wilayah perbatasan negara menjadi terang benderang. Melalui gagasan strategis bertajuk program ‘Kaltara Terang di Perbatasan Negeri’, Yosua menargetkan percepatan elektrifikasi di daerah pelosok guna mendongkrak produktivitas warga dan menekan angka kemiskinan.
Yosua mengungkapkan bahwa masyarakat di beranda terdepan NKRI yang berbatasan langsung dengan Malaysia masih merasakan kesenjangan akses energi yang tajam. Saat warga kota menikmati listrik sebagai kebutuhan dasar, warga perbatasan justru masih menganggap listrik sebagai barang mewah.
“Banyak desa hanya mengandalkan genset dengan biaya tinggi, bahkan ada warga yang sama sekali belum menikmati listrik sepanjang hidup mereka,” ujar Yosua kepada media di Tanjung Selor.
Program ini memprioritaskan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) dengan sistem off-grid.
“Kami menyiapkan regulasi berupa Peraturan Gubernur serta skema pendanaan multi-sumber, mulai dari APBN, APBD, dana CSR, hingga kolaborasi hexahelix yang melibatkan pihak swasta dan akademisi,” jelasnya.
Yosua telah menyusun langkah konkret dalam tiga tahapan implementasi:
-
Jangka Pendek: Memetakan desa tanpa listrik dan melaksanakan proyek percontohan (pilot project).
-
Jangka Menengah: Membangun infrastruktur EBT di desa prioritas serta melatih SDM lokal agar mandiri mengelola pembangkit.
-
Jangka Panjang: Mencapai rasio elektrifikasi 100% dan menciptakan kemandirian energi untuk menurunkan angka kemiskinan.
Secara ekonomi, penggunaan PLTS terbukti jauh lebih hemat dibandingkan mesin diesel (PLTD). Yosua mengklaim warga bisa menghemat biaya listrik rumah tangga secara signifikan karena tidak lagi bergantung pada bahan bakar fosil yang mahal.
Dampak sosialnya pun luas. Listrik akan menerangi fasilitas belajar daring di sekolah, mendukung penyimpanan vaksin di Puskesmas, hingga membuka akses internet di wilayah 3T.
“Program ini bukan sekadar proyek kabel dan lampu. Ini adalah langkah nyata untuk menggerakkan ekonomi desa, meningkatkan produktivitas, dan memutus lingkaran kemiskinan di Kalimantan Utara,” tegas Yosua.

