NUNUKAN, KN – Cuaca panas ekstrem melanda Kabupaten Nunukan sejak akhir Maret 2026. Suhu menyengat ini mengubah peta rezeki di wilayah perbatasan RI-Malaysia. Saat mayoritas warga mengeluhkan keran rumah yang mulai kering, para penjual air bersih keliling justru meraup untung besar.
Penyusutan air embung memaksa PDAM menerapkan kebijakan distribusi bergilir. Situasi tersebut mendorong warga mencari solusi cepat melalui media sosial. Para penjual air menangkap peluang ini dengan mempromosikan nomor kontak mereka di berbagai platform digital.
Omzet Jutaan dari Bak Penampung
Arki Hardiansyah, salah satu penjual air keliling, merasakan langsung lonjakan permintaan pelanggan. Ia melayani pengantaran air menggunakan profil berkapasitas 1.200 liter. Arki mematok harga Rp 100.000 untuk wilayah kota dan Rp 150.000 untuk lokasi yang lebih jauh.
“Pengantaran sampai 17 kali, tergantung pemesan. Lumayan ramailah, apalagi persoalan embung kering memang menjadi masalah yang belum ada solusi setiap tahunnya,” ujar Arki saat kami wawancarai, Rabu (1/4/2026).
Dalam sehari, Arki mengantongi pendapatan kotor hampir Rp 2 juta. Ia memanfaatkan momentum musiman ini guna membantu masyarakat sekaligus mencari nafkah.
Senada dengan Arki, Suharman juga mengakui banjir orderan. Ia mencatat angka pemesanan hingga 27 profil per hari dalam sepekan terakhir. Melalui harga jual serupa, Suharman meraih omzet sekitar Rp 2,7 juta per hari.
“Alhamdulillah lumayan sekali hasilnya. Saya lama jual air dan punya pelanggan sendiri. Tahun kemarin bahkan bisa 37 profil sehari,” kata Suharman.
Angka tersebut merupakan pendapatan kotor. Suharman tetap menyisihkan uang untuk biaya operasional. Ia membayar dua pekerja sebesar Rp 10.000 per profil. Selain itu, ia mengeluarkan biaya untuk membeli air dari pemilik sumur bor serta bahan bakar minyak (BBM).
Walaupun meraup untung besar, Suharman tetap mengharap hujan segera mengguyur Nunukan. “Saya bersyukur, tapi tidak pernah berharap kemarau berkepanjangan. Tak boleh juga kita mengambil keuntungan dari musibah,” tuturnya.
Kabar terkait : Krisis Air Baku Nunukan, Perumda Tirta Taka Gilir Distribusi
Alasan Suhu Menyengat
Kepala BMKG Nunukan, Wiliam Sinaga, mengurai penyebab cuaca terik ini. Menurutnya, minimnya uap air di atmosfer menghambat pembentukan awan hujan. Peningkatan kecepatan angin juga menghalangi pertumbuhan awan konvektif.
Faktor lain muncul dari gerak semu harian matahari yang berada tepat di atas titik pengamat atau fenomena kulminasi. Fenomena ini memicu lonjakan suhu udara secara signifikan.
“Kondisi cuaca cerah ini diperkirakan masih dapat berlangsung hingga awal April 2026. Meskipun masih terdapat potensi hujan ringan,” jelas Wiliam.
Cadangan Air Kritis
Kekeringan ini memukul dua sumber air baku utama milik Perumda Tirta Taka Nunukan. Direktur Perumda Tirta Taka, Arpiansyah, memaparkan data penyusutan di Embung Bolong dan Embung Sei Bilal.
Embung Bolong kini hanya menyisakan 90.000 m³ air dari kapasitas normal 450.000 m³. Ketinggian air tersisa 1 meter dengan estimasi daya tahan maksimal lima hari ke depan. Sementara itu, Embung Sei Bilal menyisakan 69.000 m³ dengan estimasi ketahanan sekitar 14 hari.
Arpiansyah meminta masyarakat menggunakan air secara bijak selama masa krisis. Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas pelayanan yang kurang maksimal akibat faktor alam.
‘’Saat ini, yang bisa dilakukan hanya menunggu hujan turun karena Kabupaten Nunukan memang tidak memiliki sumber air baku. Semoga Allah mencurahkan hujan yang penuh rahmat dan barokah,” harap Arpiansyah. (Dzulviqor)
![]()





Leave a Reply
View Comments