NUNUKAN, KN – Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, memberikan peringatan serius kepada para orang tua. Mereka meminta masyarakat menjaga anak laki-laki agar menjauhi pergaulan Lelaki Suka Lelaki (LSL). Sebaran kasus AIDS di wilayah perbatasan RI–Malaysia saat ini memang melibatkan kaum LSL sebagai kelompok mayoritas.
Komunitas LSL Menyumbang Kasus Terbanyak
Kepala Dinas Kesehatan Nunukan, Miskia, memberikan keterangan pada Rabu (14/1/2026). Ia menyebut komunitas LSL menyumbang lebih dari 50 persen kasus AIDS di Nunukan. Angka tersebut menuntut kewaspadaan penuh dari para orang tua dalam memantau pergaulan anak-anak mereka.
Dinas Kesehatan mencatat penurunan jumlah penderita jika membandingkan data tahun 2024 dan 2025. Pada 2024, tercatat 36 kasus, sementara angka tersebut turun menjadi 34 kasus pada 2025. Namun, Miskia memprediksi angka di lapangan lebih tinggi. Banyak penderita memilih menjalani pengobatan di luar Nunukan sehingga luput dari pendataan lokal.
”Satu laki-laki usia muda meninggal dunia karena AIDS pada tahun 2025,” tambah Miskia.
Modus Barang Mewah Menjerat Remaja
Miskia mengajak semua pihak mengantisipasi pergaulan menyimpang ini. Meski mayoritas anggota komunitas LSL merupakan orang dewasa, remaja belia kini menjadi sasaran empuk. Mereka masuk dalam kategori kaum rentan yang mudah terbawa arus.
Kaum LSL biasanya mengincar pemuda melalui iming-iming barang keinginan korban. Tren penggunaan barang branded di kalangan anak muda menjadi alat rayu paling ampuh. Kelompok ini memiliki grup khusus dengan jaringan luas hingga ke luar negeri.
Layaknya merayu gadis, pelaku membujuk calon korban melalui pemberian barang impian, ajakan jalan-jalan, atau aktivitas yang menyenangkan. Berbagai pemberian tersebut membuat sasaran merasa nyaman sekaligus memiliki hutang budi. Pada akhirnya, korban akan pasrah dan menuruti kemauan sosok yang menjamin kebutuhan mereka tersebut.
Rantai Predator dan Peran Keluarga
Pergaulan LSL kini merambah dunia pelajar. Kondisi ini menuntut peran nyata orang tua dalam mendidik dan mengawasi anak. Miskia meminta orang tua tetap memberikan perhatian penuh meski sibuk bekerja. Kelalaian orang tua membuka peluang bagi predator seksual untuk memangsa anak hingga berisiko tertular AIDS.
Peringatan ini menjadi sangat mendesak karena korban memiliki kecenderungan mencari mangsa baru. Perlakuan salah yang mereka alami memicu trauma psikologis yang sangat berat. Tanpa penanganan medis dan psikis, trauma tersebut mendorong korban menjadi pelaku pelecehan seksual selanjutnya. Mereka mencari pelampiasan emosi sekaligus memperpanjang rantai penyebaran penyakit AIDS. (Dzulviqor)

