NUNUKAN – Mengantisipasi kerugian lebih besar, Asosiasi Pedagang Rumput Laut, (APRL) Nunukan, Kalimantan Utara, berinisiatif membongkar kembali rumput laut sebanyak dua belas kontainer, yang sedianya akan dikirim ke Surabaya, Jawa Timur.
Ketua APRL Nunukan, Feri mengatakan, aksi pembongkaran dipicu oleh inkonsistensi buyer yang memesan rumput laut tersebut.
‘’Ini upaya APRL Nunukan, untuk mengantisipasi kerugian lebih besar. Mending rugi operasional ketimbang barang hilang,’’ ujar Feri, saat ditemui, Kamis (14/12/2023).
Dia menuturkan, untuk memobilisasi rumput laut ke kapal, pedagang telah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
Namun, hingga barang tersegel dan naik ke atas kapal, pihak buyer belum menunaikan kewajibannya, untuk melakukan pembayaran.
‘’APRL bersurat ke Pelni untuk membongkar saja barang kami. Jangan sampai kejadian tahun lalu dimana barang teman teman pedagang hilang begitu saja,’’ tuturnya.
Sebut Feri, perdagangan rumput laut di Nunukan, belum menganut sistem legal/resmi, dengan kwitansi, perjanjian antara pedagang dan buyer yang dilengkapi MoU.
Selama ini, antara pedagang dan buyer hanya menerapkan sistem kepercayaan, yang sangat berisiko terjadi penipuan.
‘’Ketika ada barang hilang, maka bukti untuk menuntut buyer sampai meja hijau tak bisa dilakukan. Ini terjadi tahun lalu dimana totalnya para pedagang mengalami rugi antara 15 sampai 20 miliar rupiah, dan itu belum selesai masalahnya sampai hari ini,’’ sebutnya.
Harga Tak Kunjung Naik
Feri melanjutkan, pembudidaya dan pedagang rumput laut di Nunukan, masih terkendala dengan harga yang tak kunjung naik.
Penurunan harga juga berdampak pada kuota pengiriman. Jika sebelumnya, pengiriman rumput laut mencapai 30.000 karung per bulan, saat ini pengiriman hanya berkisar 20.000 karung per bulan.
‘’Memang permintaan dari buyer juga kurang,’’ kata dia.
Saat ini, harga rumput laut di tingkat petani ke pedagang, berada di bawah angka Rp. 10.000 per kilogram.
Sehingga perlu adanya inovasi untuk pengadaan bibit mandiri.
Hal mendasar yang dibutuhkan untuk merealisasikan itu, harus memiliki laboratorium sendiri.
‘’Ketika ada lab sendiri, kita bisa mengendalikan kualitas dan mengatur fluktuasi harga minimal di tingkat lokal. Tidak aka nada kasus rumput laut mati karena waktu pengiriman yang terlalu lama,’’ kata dia. (Dzulviqor)
